Kamis, 16 April 2015

MUSLIM KETURUNAN atau MUALAF, MANA YANG LEBIH BAIK?



“ MUSLIM KETURUNAN atau MUALAF, MANA YANG LEBIH BAIK? “

Beberapa waktu yang lalu, media pernah begitu gencar menggembor-gemborkan tentang perpindahan agama. Berbagai hal mulai ditelisik seputar alasan mengapa seseorang berpindah keyakinan dan bagaimana proses perpindahan keyakinan yang mereka jalani. Dalam islam sendiri perpindahan agama atau keyakinan bukanlah hal baru. Banyak orang yang tadinya non muslim lantas memilih untuk menjadi muslim dan biasa dikenal dengan sebutan mualaf. Pada dzaman Rasulullah, banyak sekali sahabat yang berbondong-bondong masuk islam dan memutuskan mengucapkan dua kalimat syahadat. Bukan saja dari golongan Assabiqunal awwalun, namun banyak juga yang dari golongan kaum yahudi dan nasrani yang akhirnya memilih jalan islam. Sebagian besar umat muslim di dunia ini bahkan telah banyak di dominasi oleh para mualaf.

Lalu bagaimana dengan Indonesia ? Negara yang memiliki umat muslim terbanyak di dunia ini dahulu bukanlah negara dimana islam di lahirkan. Jadi menyebarnya islam di tanah air adalah perjuangan umat muslim terdahulu yang tercatat dalam sejarah dibawa pertama kali oleh kaum pedagang dari India dan Khujurat. Mereka melakukan transaksi jual beli sembari menyalurkan da’wah islam di Nusantara. Dengan apa islam dapat menyebar hingga seluas sekarang ini ? Apakah penganut islam memilih menjadi muslim karena paksaan ? Tentu saja tidak. Islam adalah agama yang membawa misi da’wah secara damai tanpa kekerasan. Maka penyebarannya diterima dengan tangan terbuka oleh para warga pesisir pantai yang menyambut hangat kedatangan pedagang musllim tersebut. Bahkan islam sangat disegani karena tak pernah membeda-bedakan kasta/derajat manusia secara duniawi.  Oleh sebab itu islam membumi dan dapat diterima dengan baik dan hingga kini menjadi agama mayoritas di Indonesia.

Tak hanya disebarkan melalui agenda dagang saja. Dalam perkembangannya, islam disebarluaskan melalui banyak hal seperti pendidikan, seni, perkawinan dan akulturasi budaya. Banyak warga pribumi yang akhirnya menikah dengan kaum musllim pada saat itu hingga terlahirlah begitu banyak generasi penerus islam hingga sampai pada masanya islam telah mendominasi tak hanya di Indonesia, tapi pada banyak negara di dunia. Maka sejak saat itu sebutan mualaf tak lagi asing di telinga. Lalu, di dzaman modern seperti sekarang apakah penyebarluasan masih berlangsung ? Jawabannya Ya. Islam akan terus berkembang dan melahirkan bibit-bibit baru meneruskan perjuangan da’wah. Jadi tentu akan terlahir banyak mualaf seperti yang terlihat pada saat ini. Pertanyaannya “ Apakah seorang mualaf memiliki hak yang sama dengan muslim keturunan atau seseorang yang terlahir sebagai muslim ? Apa eksistensi mereka untuk memajukan islam ? Lebih baik mana secara kualitas antara muslim keturunan dibanding seorang mualaf ? “

Menanggapi berbagai macam isu dan berita yang memojokkan islam saat ini, saya akan memberi ulasan terkait pertanyaan di atas. Sebelumnya, Apakah kita pernah mendengar bahwa menjadi seorang muslim adalah sebuah hidayah ? Saya rasa sering. Pada dasarnya seseorang terlahir kedunia ini tidak membawa bakat tentang suatu keyakinan apapun. Jadi pada intinya, entah kelak dewasa nanti mereka akan menjadi muslim, nasrani, yahudi, atau umat beragama apapun itu akan lebih di pengaruhi oleh pendidikan orangtua tentang keyakinan mereka yang biasanya ditularkan pada anaknya. Namun ingin saya perjelas bahwa menjadi seorang muslim bukanlah takdir. Ingat BUKAN TAKDIR ! Mengapa saya katakana demikian ? Karena, sejatinya setelah dewasa seseorang cenderung memikirkan banyak hal tentang keyakinan yang dianutnya. Pada kenyataannya tiap-tiap manusia diberikan kesempatan untuk memilih jalan hidupnya, begitu pun terkait persoalan agama. Jadi menjadi umat beragama apapun itu pilihan. Saya tekankan, PILIHAN !.

Tak aneh bukan mendengar banyak orang dengan banyak profesi ? Begitu pula dengan banyak umat beragama. Karena pada dasarnya kita diberi kesempatan untuk memilih. Allah telah menganugerahi kita dengan otak dan akal yang sempurna, maka perkara menjadi apa dan siapa kita itu adalah perkara pilihan. Jika ada banyak orang untuk memilih menjadi mualaf, maka ada banyak alasan pula yang akan mendasaari mereka untuk mengambil keputusan tersebut. Mulai dari karena pernikahan (mendominasi), ilham, mimpi, kesadaran, dan lain sebagainya. Terkait dengan alasan-alasan tersebut, tidak salah jika kita memilih jalan islam dengan alasan kita masing-masing.

Lantas, Apakah kita pernah mendengar seseorang bertanya mengapa setelah pernikahan lantas terjadi perceraian seorang mualaf cenderung murtad kembali ? Sedangkan di lain sisi ada yang berkata bahwa seorang mualaf cenderung lebih kuat imannya dari pada mereka yang menjadi muslim karena keturunan ? Fenomena ini tengah menjadi pergunjingan di masyarakat kita. Saya ambil contoh. Siapa yang tidak tahu Ustadz Felix Siauw yang notabennya seorang mualaf keturunan tionghoa ? Hebat bukan seorang mualaf namun bisa menjadi tokoh besar islam yang berkontribusi banyak terhadap islam ? Kira-kira apa yang akhirnya melatarbelakingi beliau untuk memilih jalan islam ? Apa karena perkawinan ? Tentu saja tidak. Beliau menjadi seorang mualaf ketika berumur 18 tahun dan belum menikah. Intinya, beliau mengaku menjadi muslim karena beliau berikir. Memikirkan tentang islam dan mengilhami Al-Qur’an, barulah kemudian Allah berkenan menganugerahinya hidayah islam untuk menjadi seorang mualaf. Namu melihat konsistensinya kini, mungkin kita yang muslim keturunan akan iri jika membandingkan keberhassilan da’wah beliu dengan kita yang masih pas-pasan yaa ? Contoh lain adalah pada banyak kasus perkawinan yang akhirnya membawa seorang mualaf memilih menjadi seorang mualaf namun murtad kembali setelah terjadinya perceraian. Kasus ini sangat banyak daan dapat saya simpulkan bahwa keislamannya belum membawanya pada kuatnya iman, sehingga masih mudah tergoyahkan.

Menjadi mualaf karena perkawinan memang tidaklah salah. Telah banyak dihasikan keturunan muslim dari buah perkawinan muslim dan mualaf. Namun, apabila seseorang memutuskan menjadi musim karena sebab perkawinan dan selanjutnya akalnya tidak digunakan untuk memikirkan jalan islam tentu saja ini yang akan berakibat fatal . Bisa dikatakan keislamannya hanya karena pernikahan tanpa adanya sebuah kesadaran. Jadi baiknya seorang mualaf adalah mereka yang mau memikirkan tentang Al-Qur’an dan menggunakan akalnya untuk mengilhami islam karena sekali lagi menjadi muslim bukan takdir melainkan PILIHAN. Lalu apa perbandingannya antara mualaf dan muslim keturunan ? Benarkah bahwa mereka yang mualaf cenderung lebih kuat imannya dibanding kita yang muslim keturunan ?

Saya rasa telinga orang Indonesia tak asing dengan ungkapan “ Mualaf cenderung lebih kuat imannya dari pada muslim keturunan “. Faktanya memang banyak mualaf yang kemudian lebih teguh memegang imannya daripada kita yang muslim keturunan. Mengapa ? Karena, biasanya seseorang yang terlahir menjadi muslim atau muslim keturunan cenderung biasa-biasa saja dengan aksi agamis yang dia lakukan. Dalam arti. Karena sedari kecil muslim keturunan sudah banyak tahu perihal agama maka tak sedikit dari pada muslim keturunan yang tidak fanatic dalam urusaan agama dan menganggap enteng amalan-amalan ringan. Al-hasil, karena seringnya menganggap enteng urusan agama, maka dia lebih mudah melepas keislamannya ketika banyak factor X mempengaruhi ketauhidannya. Tak jarang bukan kita jumpai muslim keturunan yang pada akhirnya murtad ? Sesungguhnya hal ini tak jauh beda dengan kasus mualaf  karena perkawinan. Persamaannya, karena pada saat menjadi muslim mereka cenderung berhenti atau bermalas-malasan menggunakan akalnya untuk mengilhami Al-Qur’an, sehingga keislamannya pun akan mudah tergoyahkan. Lalu bagaimana dengan seorang mualaf, Bukankah mereka juga punya potensi yang sama untuk kemudian kembali ke keyakinan asal mereka ?

Jika memperhatikan Ustadz Felix  contoh dari salah satu mualaf yang berhasil memegang ketauhidannya  tadi, selintas barangkali kita akan membenarkan pernyataan “ Mualaf cenderung lebih kuat imannya daripada muslim keturunan “. Tapi tahan sejenak. Pada dasarnya tak sepenuhnya pernyataan diatas benar. Bukankah semua itu tergantung manusianya ? Hanya saja, terdapat perbedaan mendasar antara muslim keturunan dan mualaf. Dalam banyak kasus dijumpai bahwa biasanya, mualaf memutuskan menjadi muslim karena mereka telah benar-benar yakin dengan keputusannya menjadi muslim. Dengan kata lain, mereka telah memikirkan tentang islam terlebih dahulu sebelum akhirnya hidayah datang dan membawanya pada jalan islam. Selebihnya seorang mualaf yang sungguh-sungguh dengan keimanannya akan menggunakan akalnya untuk mengilhami Al-Qur’an agar keimanan mereka semakin kuat. Nah disinilah perbedaan antara mualaf dan muslim keturunan terlihat jelas. Karena banyak sekali muslim keturunan yang lantas berhenti menggunakan akalnya untuk mengilhami Al-Qur’an meski mereka mendapatkan pendidikan islam jauh lebih dulu dari para mualaf. Begitu pula dengan mualaf karena pernikahan. Karena sebaik-baik alasan masuknya seseorang menjadi muslim adalah karena mereka telah memikirkan islam dan betul-betul yakin terhadap agama baru yang dianutnya tersebut. Kenapa ? Karena hidayah tidak datang begitu saja, melainkan datang saat akal dan rasio mau digunakan untuk membaca alam dan kuasa-NYA.

Pada intinya memang semua tergantung pribadi masing-masing. Entah itu mualaf maupun muslim keturunan tak ada beda derajatnya dimata Allah, yang membedakan hanya ketaqwaannya saja. Jadi muslim keturunan dan mualaf memiliki kesempatan yang sama dalam hal eksistensinya dalam kemajuan islam. Kembali pada pembahasaan sebelumnya, karena pada hakikatnya menjadi muslim adalah pilihan maka sebuah pilihan pula untuk meningkatkan kualitas kita sebagai seorang muslim atau stagnan dengan pengetahuan dan eksistensi di dunia islam. Semua itu PILIHAN. Contoh keberhasilan Ustadz Felix dalam berdakwah hanyalah sebagian contoh kecil dari pada keberhasilan banyak mualaf di bumi ini, kita yang muslim keturunan semoga semakin termotivasi dengan kisah tersebut. Ingat, mau maju atau tidak, bukan perkara takdir tetapi semua itu adalah pilihan.

By : Desi Lestari
@Kamis, 16 April 2015. 11.05 PM.

PRIBADI VISIONER



“ PRIBADI VISIONER “

Pernah mendengar ada seorang anak kecil mengutarakan keinginan atau cita-citanya kelak ?
Apa tanggapan kita saat seorang anak yang masih begitu belia atau polos itu mengandai-andai tentang masa depannya kelak ? Biasanya reaksi yang muncul jika yang menanggapi adalah sesama anak kecil,mereka akan tertawa lalu mengatakannya “ Ah menghayal !” atau “ Gila ! Mimpi apa bisa kayak gitu ?!” dan berbagai macam ungkapan lain yang sejenisnya. Lalu bagaimana jika yang menanggapi adalah orang yang lebih berumur ? Jawabannya, mungkin tak jauh beda. Tapi ada sebagian kecil yang akan menanggapinya serius lalu menyemangatinya. Bayangkan bahwa mereka telah benar-benar menggapai angan-angan mereka dengan sukses ! Kita yang tadinya menertawakan mungkin akan beralih ekspresi dengan menyambutnya girang.  Semua hanya perkara NANTI. Ya, memang nanti. Nanti saat semua benar-benar terwujud, tapi tanpa ada pengandaian atau sebuah misi, Apa kira-kira yang akan menjadi tujuan kita di masa depan ? Apakah pantas disamakan dengan anak kecil yang hanya sekenanya menjawab  pertanyaan cita-cita mereka ?

                Setiap insan telah dengan sempurna Allah ciptakan dengan berbagai macam kelebihan yang tak dimilki makhluk  lainnya. Tapi, pernahkah kita berfikir untuk memanfaatkan kemampuan kita semaksimal mungkin untuk mencapai tujuan kita masing-masing ? Bahkan barangkali, ada yang belum memiliki tujuan hidup. Lalu bagaimana kita bisa hidup lebih baik untuk mempersiapkan masa depan jika tak ada visi,cita-cita, atau tujuan di masa depan ? Apa pentingnya sebuah tujuan dalam hidup ?
Dengan contoh anak kecil yang mencoba merangkai cita-cita sejak dini, pantasnya kita berkaca bahwa mereka anak kecil yang pemahamannya masih belum seberapa pun tahu bahwa hidup ini harus memiliki tujuan atau visi untuk dijadikan pedoman dalam menapaki jejak kehidupan. Kita seringkali berfikir untuk hidup mengikuti arus saja dengan kata-kata sederhana yang kurang lebih “ Let it flows guys “ begitu fasih dan ringan di lidah. Tahukah kita bahwa ungkapan ini belum tentu sesuai dengan semua kondisi terlebih jika menyangkut tujuan hidup ? Apa alasannya ?

                Salah satu teladan terbaik yang pernah hadir di tengah-tengah kita adalah beliau Rasulullah SAW. Beliau pernah menyinggung tentang pentingnya sebuah misi dalam sebuah perang besar yang dipimpinnya kala itu. Perang Parit namanya. Apa yang beliau wasiatkan untuk kita agar memiliki visi dan misi dan menghindari kepasrahan terhadap takdir tanpa berusaha mendahuluinya sebelum menyerah ?
Berikut kisahnya.
“ Suatu saat Rasulullah pernah memerintahkan seluruh penduduk Madinah, baik muslim, nasrani, maupun yahudi untuk sama-sama keluar ke perbatasan kota dan menggali parit sejauh 8 km. Parit itu dibuat untuk menghadapi perlawanan kaum kafir quraisy  yang ingin menghabisi riwayat islam dengan mengumpulkan koalisi pasukan sebanyak 10.000 orang beranggotakan kafir quraisy, yahudi, dan para munafik.
Menghadapi kenyataan ini, tak sedikit kaum muslim yang panik dan takut menghadapi ancaman berat ketauhidan mereka. Hanya yang memiliki iman kuat yang tampaknya masih bersemangat mengemban amanah Rasull untuk tak goyah dengan keadaan. Persiapan kaum muslim tengah berjalan. Di terik matahari khas timur tengah, mereka menggali berkubik-kubik tanah untuk memenuhi permintaan Rasulullah. Dalamnya parit sekitar 3 meter dan lebarnya minimal harus 5 meter. Tak terbayang bukan keletihan yang menemani tugas berat tersebut ? Tekanan dan ancaman yang membayangi umat muslim nyata membara di depan mata. Namun Rasulullah sanggup menahan diri dan tetap bersemangat menggali parit. Sampai suatu ketika saat menggali parit, Rasululah menghancurkan batu besar berkeping-keping  yang tadinya tak mempan oleh kapak-kapak sahabat. Rasulullah menghantam batu itu dengan tiga pukulan, masing-masing diawali basmallah, dan bersabda yang artinya :
 ---Allahu Akbar,telah diberikan kepadaku kunci-kunci kerajaan Syam. Demi allah saat ini aku benar-benar melihat istana-istana merahnya dari tempatku ini. Allahu Akbar, telah diberikan kepadaku kunci-kunci kerajaan Persia. Demi Allah aku benar-benar  melihat kota-kotanya dan istana-istana putihnya dari tempatku ini. Allahu Akbar, telah diberikan kepadaku kunci-kunci kerajaaan Yaman. Demi Allah, aku benar-benar melihat pintu-pintu Shan’a dari tempatku ini.--- ( HR. Ahmad )
Padahal saat itu Madinah hanya sebuah kota dengan luasan yang jauh lebih kecil dari Jawa Barat. Sedangkan pada masanya,  Romawi di Syam adalah negara adikuasa disitu, begitupun Per sia yang juga Negara super power saat itu.  Tentu saja ditengah kepanikan yang melanda Madinah kala itu, emosi kaum Yahudi terpancing. Mereka tercengang mendengar pernyataan Rasulullah yang tidak masuk akal bagi mereka. Hingga kata-kata keji keluar dari lisan mereka  “ Muhammad gila !” .“

                Begitulah singkat cerita tentang sebuah perang besar yang akhirnya dimenangkan oleh Umat Muslim. Secara logika, 1000 pasukan melawan 3000 pasukan, tentu 3000 pasukan itu tidak akan sanggup menang. Tapi kenyataaan telah membalikkan keadaan. Apa kira-kira yang menjadi kunci keberhasilan umat muslim saat itu? Rasulullah telah dengan tegas menjawabnya. Yaitu, karena sebuah visi. Ya, Rasull telah membakar semangat kaum muslim yang pada saat itu begitu takut menghadapi tekanan yahudi. Maka tak tanggung-tanggung, Rasulullah mendapat julukan “ gila “ dari musuhnya itu. Tapi, bagi beliau apalah yang lebih penting dari pada memajukan umat islam dengan sebuah visi dan misi besar agar langkah mereka terarah seperti pada keberhasilan perang parit tersebut.

                “ Sinting, gila, menghayal, mimpi, utopis, edan, dan sebagainya adalah ungkapan biasa bagi pribadi visioner seperti Rasulullah.” Jika Rasull saja telah mewariskan perjuangan yang visioner seperti itu kepada kita, lalu pantaskah kita masih bermalas-malasan dan menjalani hidup mengalir saja seperti yang biasanya kita ungkapkan ? Mungkin kita lupa, Allah pernah menganugrahi kita manusia sebagai khalifah dimuka bumi. Tugas yang berat untuk kita menjadi contoh dan tauladan bagi makhluk lain. Namun bisakah kita menjadi lebih baik dan meraih masa depan cerah jika tanpa visi yang besar yang Rasull contohkan pada kita? Jika takut diberi label “ gila “ seperti Rasull kala itu, sebut saja kita tak bermental. Tak berani mengambil sikap dalam menentukan langkah kita kedepan. Menentukan tujuan hidup agar terarah dan tak berada di jalur yang menyesatkan. Karena itulah tujuan sebuah visi.

                 Kebanyakan manusia hanya dapat menangkap sesuatu sesuai dengan apa yang dilihatnya saat ini. Pantas saja jika ada anak kecil yang masih suka bermain lantas mengutarakan cita-citanya menjadi dokter,kita tertawakan. Padahal sikap seorang visioner pasti mampu melihat lebih dari pada itu. Bahwa sesungguhnya dibalik sebuah misi yang disertai usaha keras, maka berbuahlah sesuai  angan atau visi yang diharapkan.  Dia melihat dengan akalnya, dengan keimanannya.  Jika sebuah visi telah kita genggam, langkahkan kaki untuk terus bergerak agar tidak melenceng dari visi yang telah digariskan. Dunia menunggu banyak action dari orang-orang yang memiliki cita-cita besar, bukan dari mereka yang mengharap keajaiban di siang bolong atau menunggunya dengan kepasrahan.

                Terbukti, dunia akan selalu diarahkan oleh orang-orang yang visioner. Sementara orang-orang pragmatis mengikutinya. Mungkin, 1400 tahun lalu bila ada seseorang yang menyampaikan bahwa islam akan menguasai 1/3 dunia tidak akan ada yang percaya. Namun, kita bisa membuktikan saat ini bahwa islam pernah menguasai 1/3 dunia dengan khilafahnya. Tentu, sebuah visi mulia lah yang menyampaikan islam pada masa kejayaannya. Siapa lagi jika bukan Muhammad SAW yang  menyampaikannya pada saat beliau massih hidup. Kita sebagai umat pengikut setia Nabi junjungan kita Muhammad SAW pantas berbangga karena memiliki suri tauladan yang sempurna, yang mengarahkan kita pada cahaya dimana islam dan umatnya bersatu padu karena cita-cita besar sebagai rahmatan lil’alamin.

                Oleh karenanya,  visioner atau pribadi yang memiliki visi adalah sikap wajib bagi kita. Bagaimana mungkin visi besar yang diwariskan Rasull untuk melihat kejayaan islam dengan permata dan kilauan cahaya terindah dapat terwujud jika kita yang diwarisi saja enggan mencontoh beliau dalam bervisi dan bertindak ? Satu fakta besar yang tak terelakkan, bahwa seandainya Rasulullah tak memberikan visi pada sahabat, tentu islam tak akan besar seperti saat ini. Jadi, dengan meyakini visi yang diberikan Allah dan Rasull-NYA, serta berjuang sekuat tenaga untuk mencapainya tidak akan dilakukan maksimal apabia kita tidak visioner. Al hasil, sudah bisakah kita menentukan visi untuk mengarahkan langkah kaki ? Siapkah kita menjadi visioner seperti sabda Nabi ? Insya Allah, dengan ketekunan dan kegigihan, tak ada hal mustahil yang patut menjadi rintangan. Pertolongan Allah selalu bersama orang-orang  yang visioner. Bukankah allah adalah tempat bagi segala kemustahilan ???
Selamat bervisi, dan memperjuangkannya dengan aksi !.

                                By:  Desi Lestari
                                @15-Apr-15 : 11.41 PM
               

Senin, 02 Maret 2015

BAHAGIA SEJATI (Truly happiness)

Hidup bukanlah rutinitas tanpa henti. Ada saat dimana jeda waktu sangat berharga dalam merenungi langkah-langkah yang telah ditapaki. Jika apa yang kita kerjakan saat ini adalah perjuangan mencapai kesuksesan, maka apa sesungguhnya yang di cari ? Apa puncak dari semua yang ingin kita gapai dalam proses kehidupaan ini? Bukankah kita semua hanya berharap kebahagiaan adalah tujuan ? Lalu dimana ia berada? Harus dimana kita mencarinya? Ah sungguh betapa banyak pertanyaan akan muncul dan mulai terjabarkan jika kita bicara tentang tujuan hidup ini.
                Pada dasarnya toh hidup adalah sebuah proses. Dimana apa yang kita jalani adalah bentuk usaha kita mencapai taraf hidup yang lebih baik. Setelah Allah menetapkan kita sebagai khalifah di bumi-NYA, maka sejak itulah proses kehidupan yang pelik berlangsung. Masing-masing kita melewati hidup dengan caranya masing-masing. Tapi, sesungguhnya tujuan kita pasti sama, mendapatkan kebahagiaan dan menjadi yang terbaik dalam menjalani kehidupan kita masing-masing. Maka terlalu sulit untuk melepaskan diri dari tanggungjawb berat yang harus kita jalani sebagai khalifah (pemimpin) di bumi ini. Kita selalu dituntut untuk menjadi teladan bagi makhluk lain yang tidak lebih sempurna penciptaanya dari kita. Semua itu akan kita jalani dengan proses. Apapun yang terjadi, proses kehidupan tetap berjalan.
                Sekali lagi, hidup tak sampai disini. Karena pasti akan ada hari esok dan seterusnya yang akan tetap berjalan walau kadang kita tak menginginkan banyak hal terjadi. Tentu qodrat dari manusia itu sendiri selalu menginginkan yang terjadi dalam hidup adalah kebahagiaan mewarnai. Tapi pada kenyataannya, semua itu berproses. Jadi mengejar sesuatu yang menjadi tujuan bukan berarti terus berjalan dan tak berhenti sampai dapatnya tujuan itu di depan mata. Sebab sejatinya kehidupan hakiki adalah kehidupan setelah kita mati.-nanti. Lalu untuk apa terus mengejar dan tak menikmati proses kehidupan ini ? Toh semua yang terjadi adalah kenyataan yang mau tidak mau tetap saja terjadi selama kita tak merubah keadaan. Jadi, lupakan sejenak tentang hari esok. Jika benar kebahagiaan adalah sesuatu yang sungguh-sungguh kita cari, maka ia ada dan selalu medampingi.
                Dalam hati sering bertanya “ Dimana kita bisa menemukan kebahagiaan ? Biasakah ia ada dalam genggaman dan tak beranjak pergi walau berbagai prosess kehidupan tetap terjadi ? “
Jawabannya. Berhentilah mencari. Bukankah analoginya, ketika kita mencari sesuatu, berarti sesungguhnya apa yang ingin kita dapatkan itu belum kita temukan sehingga perlu untuk terus dan terus mencari? Lalu sampai kapan? Rasanya akan sangat terbuang sia-sia hidup ini jika digunakan hanya dengan mengejar-ngejar yang tak ada ujungnya itu. Ingatlah, kehidupan adalah proses, dan bukan rutinitas tanpa henti.

                Ketika semua kesadaran mulai menghinggapi, perlahan otak ini akan berputar pada masa lalu yang telah terlewati. Sesungguhnya masa lalu tetaplah masa lalu, dan akan menjadi bagian dari sejarah. Bagaimana jika kita nikmati saja sejarah itu ? Mengapa? Karena, betapapun sejarah terjadi,ia adalah hikmah yang bermakna untuk mengukir masa depan. Jika pun kita menemukan cacat dalam sejarah, kita akan berfikir untuk tidak mengulangnya di masa mendatang. Maka itulah sebenar-benarnya ketercapaian. Ada disaat kita mau menikmati. Masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang berharap adalah rangkaian cerita indah yang menjadi bukti perjuangan jejak khalifah-NYA ( kita ) di bumi yang fana, dan tak seorang pun menetap dan abadi. Hayati, rasakan sejenak ketenangan dalam diri. Lupakan rutinitas yang memaksa otak membagi waktu dalam. Dan nikmati segala ketercapaian yang ada, maka mengawal kehidupan akan lebih mudah kita rasakan dan terasa ringan walau berat di jalani. Disitu perlahan kebahagiaan terasa ada, semakin dekat. Ia ada dalam kesederhanaan hati menapaki puzzle kehidupan. Menerima setiap proses dan menjalaninya dengan antusias. Percayalah “ Itulah Bahagia Sejati “.

By: Desi Lestari

Minggu, 04 Januari 2015

“ CINTA DALAM DIAM “

“ CINTA DALAM DIAM “

Pada lorong aksara aku berkaca
Menatap rapuhnya sukma dalam bias rupa airmata
Pada titian takdir yang menjelma
Biarkan iman berbicara sepatah kata
Tentang sebuah asma bernada ‘cinta’

                Diam. Dalam cinta bahkan diam pun berbicara
                Kala isyarat do’a rengkuh ragamu nan jauh disana
                Rupa kan cinta pada sebutir  takwa
                Bersandar pada belas kasih Tuhan yang menyatukan
                Dua jiwa yang terikat sebatas ‘Diam’

Memilihmu adalah keputusan
Meski tak banyak kata mampu ku layangkan
Pada lilin harapan ku sandarkan ketegaran
Terjahit luka pada simpul senyuman
Dengannya kau mampu merasakan
Dalamnya derita cinta berbalut ‘Diam’

                Pada kuasa Tuhan ku pintakan keadilan
                Tuk jawaban do’a yang tak putus ku dengungkan
                Demi separuh jiwa yang hidupkan warna cinta
                Berbisik damai dalam gejolak jiwa
                Tak kuasa hati  menangkalnya
                Tuk milikimu dalam realita asa

BY: Desi Lestari ( Dessy ZahratulQolbi )
               





               



Kamis, 25 Desember 2014


“ PEREMPUANKU “

Perempuan … pernahkah kau hitung berapa usiamu sekarang ?
Pernahkah kau bandingkan berapa lama senyum mu bertahan ?
Pernahkah, pernahkah ?
Pernahkah kau ingat seberapa lama aku mengenangmu dalam diam ?
                Perempuan …ayu mu, menyulam cinta di benak ku         
                Sapamu mengundang gumam kagum batinku
                Empat tahun sudah nama mu bertahan
                Mengakar di dasar jiwa menahan rindu yang tertahan
Perempuan…kau hadir dalam rinai hujan semalam
Dalam malam-malam yang selalu milikku
Kamu dalam buhulan rindu
Meski realita menyekat jarak antara ku dan kamu…
                Perempuanku…hitungan tahun berlalu tak ubah pelangi di matamu
                Cara yang kian nyata ku ingat dalam bias pribadimu
                Aku kagum…mengagumimu…..
                Bukan pilihan bagiku tuk cintaimu
                Untuk waktu yang tepat mengikatmu dalam genggamku
                Sungguh, peluhku getir tanpa mu perempuan
                Biar lara bertabur cuka,pun tak apa
                Asal mampu ku intip bahagia di jendela asa
                Tentangmu perempuanku…

                BY : Desi Lestari ( Dessy ZahratulQolbi )

Minggu, 21 Desember 2014

“OPERA TUHAN “

Abadilah rindu beralas sajadah biru Berjibaku kala bisu hanyut dalam syahdu Langit cemburu akan bisikan tangisku yang menggebu Diantara pinta yang kian bergema nyanyikan khaufrajaku Ku buka tirai kasih pada takhta arsy-MU Lewat senandung cinta bernama do’a Ku sisipkan asma yang menadi bersama darah ku Mengalun indah di pori-pori mulutku Sepucuk salam hangat memadu rindu Dalam hening waktu menutup senja-MU Manakala kikisan iman nampakkan dirii Hanya tasbiih bergemuruh hanyutkan pilu Bukan tak sadar peranku adalah rahasia-MU Namun operamu tak terjamah naluri ku Tuhan… “sekali lagi ajari aku berdrama untuk-MU” Ku lepaskan angan yang bertalu di hatiku Berpasrah pada sepenggal surat skenario-MU Menari dalam panggung sandiwara Sambangi peran hanyut dalam wayang-wayang Tuhan Enggan bukakan diri kreasikan angan Dalam wajah palsu ku cemburukan peran Kian menyatu dalam angan tak bertuan Pada pintu-pintu singgasana-MU Ku adukan detail perkara hidupku Ketidakmampuan dalam drama-drama pilu Hingga seringnya keluar dalam batas skenario-MU Bahu pun kian renggang merangkulku Namun tak ada tempat yang tersungkur kala sujud mendekur Rapuh…Lemah…itu milikku Biarlah sekali lagi tengadahku kalut dalam senyap Menatap esok jalanku tegap Berdrama sahaja di panggung sandiwara Tanpa kuasa diri seorang hamba Sabda kan cinta kalam rindu Di batas opera kesempurnaan-MU….

Jumat, 19 Desember 2014

“ SANGKAR SETIAMU ”

Rintik hujan menyirami kegersangan jiwa
Saat asa menganga tanpa belaian nyawa
Menunggu hinggapnya cinta di balutan sukma
Sangkar mu kian membelenggu kalbu
Memaksa ku mengikis habis cinta selain kamu
Perlahan waktu memikat menepis sayapku
Membungkus rindu menyenandung kaku
Saat mengingatmu adalah pilu
Mengusir bayangmu adalah duri yang menyayat kalbu
Bertahan dalam kesetiaan menembus batas cakrawala
Melambungkan segenggam asa bersama senandung jiwa
Meski  fana hadirmu sekejap mata
Namun abadi dalam kisah sepanjang masa
Dekapan waktu membingkis rindu
Berbisik mesra menggemakan rasaku
Kau jauh, namun dekat saat langit jadi pemersatu
Guratan biru bentangkan lukisan cinta tiada tara
Mendekati raga yang tak jelas dimana rimbanya
Hanya sangkar kesetiaan dalam jendela keabadianmu
Menghantar kepingan asa menuntun jejak rindu
Menepis lara akan rindu yang mengendap kian membeku
               Di sangkar ini aku mengadu
               Menggelayuti rasa tentangmu
               Agar esok sang waktu rekatkan dua sejoli dalam pilar nyata
               Menyatu dalam rindu , abadi dalam kelana waktu
               Aku….dan Kamu..rinduku .

BY: Desi Lestari (Dessy ZahratulQolbi)

Sabtu, 06 Desember 2014

Rindu Wajah Senja

Cinta...hendak kemana kau buatku berkelana ?
Mengarungi jejak langkah kaki tanpa petuah asa
Berjalan berteman nestapa, lara, dan duka ..


Cinta…rembulan menertawakan pelannya langkahku melangkah
Mengikuti tiap jengkal cahaya yang tertangkap panca indera
Terseok-seok penuh derita tersebab aral melintang di medan juang
Mengejar senja esok di pelupuk mata mengharap hadirmu belahan jiwa
Ku genggam apik naluri rindu demi janji yang membungkam ragaku
Terus..dan terus..menapaki jalan berliku..
Berselimut senyum kaku rembulan padaku dan lautan semangat karenamu ‘jiwaku’


Cinta…di ujung batas kota ini,pernah tertoreh tinta berukir nama kita berdua
Melingkar sebuah cincin mungil di jari manis  adinda
Kini sebongkah harapan mengantarku pada tempat yang sama
Senja yang sama,yang pernah menjadi saksi butanya dua insan memadu asmara..
Senja..di belantara mana kau sembunyikan raga yang begitu ku damba ?
Mungkinkah senja telah merubah wajahnya hingga tak kau jumpai dinda di batas kota ?


Cinta… perjalanan telah begitu panjang dinda lewati
Di tepian rasa kecewa bercampur gundah melanda
Bukankah masih sempat dinda sisipkan kesetiaan sampai detik dimana raga terasa hampa ?
Bukankah bayangmu masih menjadi satu-satunya lentera tatkala putus asa begitu menggoda?
Mantera apa yang mampu sekuat cinta ?
Derita mana yang tak tertindas olehnya ?


Senja…
Kini kau adalah saksi bisu kesetiaanku
Saat janji mendorong hati terus berharap meski semu
Saat rindu menjadi akar tatkala raga hampir tumbang
Saat cinta adalah lentera kala langkahku gulita
Entah belahan dunia mana yang masih sanggup percayainya
Yang ku tahu,senyummu tetaplah sama ..
Hingga waktu telah menjadi pemisah dua sejoli dalam sangkarnya
Dan hanya kau lah ‘senja’ yang mampu bercerita tentang setiaku padanya
Tentang kesetiaan menanti menatap wajah senja,di batas kota yang sama ..
Bersamamu…Belahan Jiwa…

Senin, 01 Desember 2014

AYAH…….

Masih ku papah rapuhnya bahu ini
Ku eratkan jari jemari sembari kumpulkan kekuatan
Tanpa ragu ku coba sematkan harapan tuk bertahan…

Di usia senja kini ratapan bukan lah hal baru
Sesekali layangkan pandang pada gundukan tanah bertabur bunga
Memoar yang tak enggan henti berkelana
Sebab rasaku tak sedikit pun menyentuh kalbu
Dan siapkan iman kemantapan itu…

Meski enggan rasanya tulang-tulangku berbaur rata dg sebuah benda mati
Namun demi sepatah kata menolak pun tak sanggup lidah ini bergumam
Air mata mengalir mewarnai gemetar nya gemuruh dalam kalbu
Mengingat tak usai disini penghakiman Sang Illahi…

Tatkala seorang gadis belia menitikkan air mata sembari berkata ‘Ayah..’
Bola mataku tak sanggup menerawang penuh kepedihan sang gadis
Hanya  air mata yang masih mampu mengalir menikmati lantunan ayat suci
Bergema beserta bisikkan do’a berharap alam sadarku terpanggil
Sekali lagi angin berhembus lirih layangkan pesan cinta ke langit
Berharap Sang Kuasa izinkan sang gadis berbisik cinta lebih lama pada sang ‘Ayah..’

Sang gadis terus merintih ungkapkan kesalnya ia sebab rapuhnya tubuh ini
Lekas ia gapai tangan ini dan tergenggam erat bak simpul sebuah tali
Ia mengerti saat tak ada lagu bahu yang memapahnya tuk bersandar
Selalu siap bahu ini sodorkan diri
Kini pandangnya pun hanya tinggal bahu yang lemah menemani
Ingatkan ia tatkala bola matanya tak sanggup bicara dan sebongkah air mata jatuh mewakili gundahnya
Akan selalu hadir belai tangan ini tuk hapus tangis di pipi merahnya
Kini tak ada gerakan barang sejengkal pun yang mampu menjawab kegelisahan sang gadis…


Entah medan magnet apa yang membuat sang gadis belia enggan beranjak dari sosok yang dulu selalu mendekapnya
Berjam-jam,berhari-hari,dan setiap detik yang berlalu adalah penjara yang samar bagi sang gadis
Waktu telah membuat gadis belia itu melalui aral di sebuah tempat diantara ribuan nyawa dalam keadaan darurat
Hanya tersisa secercah harapan yang masih apik dalam genggaman akan malaikat karibnya ‘Ayah’

Tasbih,tahmid,serta ribuan do’a beriring menghantar jejak nafas ini
Dari bidadari kecil yang melabuhkan harapan ketegaran jiwaku
‘Ayah..untuk siapa karangan bunga ini ku rangkai?
Untuk siapa medali ini ku persembahkan?
Untuk siapa ketegaran ini ku perjuangkan?
Jika engkau yang ku nanti enggan mendengar jeritan hati ini
Tak lagi peduli seberapa keras ku merintih berharap masih ada waktu lumatkan canda tawa bersamamu’


Sejenak suasana begitu hening………
Ia terisak dan kembali hatinya berkabut
Tertahan sejenak sebelum manusia berbaju putih  mengendap-endap masuk
Serentak terdengar ‘Innalillahi wa inna ilaihi roji’un..’

Dunia seakan kelam,kabut hitam berbela sungkawa
Betapa pedih nan miris menghantam jiwa suci sang gadis
Untaian do’a lah  yang menjadi persembahan terakhir di hembusan nafas ini
Namun ia mengerti,cinta  Sang Illahi pada malaikat karibnya membuat ia harus berbesar hati
Dalam menghantar ‘Ayah’ ke haribaan Sang Illahi…….

Kamis, 27 November 2014

Di Balik Bayangmu

Seusai jam kuliah di Kampus aku bergegas mencari taxi untuk mengantar Abah menjalani pemeriksaaan rutin di RS Persahabatan Jakarta Utara. Nampaknya kali ini aku agak terlambat karena ada jam tambahan yang diadakan oleh dosen psikolog pendidikanku. Aku mulai mempercepat langkah berjalan sekeliling kampus mencari taxi. Dari belakang nampak mobil avanza putih melaju kencang,lama-lama semakin mendekat dan hampir saja menabrak ku! Mobil itu seketika mengerem mendadak,, hampir saja menabrak pohon yang tepat berada di depan kampusku. Andai aku tadi tak menghindar, mungkin juga aku yang akan jadi sasaran mobil yang melaju tanpa kontrol itu. Dari balik mobil tampak seorang lelaki yang mencoba keluar dengan luka yang nampak di kepalanya. Mungkin benturan itu terlalu keras hingga membuat langkah lelaki itu tak jelas dan tak berselang lama ia terjatuh! Aku terperanjat! Saat ku hampiri lelaki tadi, ternyata darah berlumuran di kepalanya hingga membuatnya tak sadar. Aku mencari pertolongan hingga datanglah beberapa orang yang membantuku membawanya ke rumah sakit.
Setelah bercakap-cakap dengan dokter, Aku kembali ke ruang dimana Idris dirawat. Kartu tanda pengenalnyalah yang membuatku tahu identitasnya. Perlahan aku mulai membuka pintu. Dia telah sadar, dan nampak kebingungan memandangi ruangan ini.”Aku dimana? Mengapa bisa ada disini?”  Tanya pemuda itu padaku. Aku mencoba menjelaskan padanya perihal peristiwa yang baru saja terjadi.”Oh ya. Namamu Idris bukan? Maaf, tadi dompetmu terjatuh dan Aku menemukan kartu identitasmu.Ambilah..” Sembari menyodorkan ID CARD tersebut. Aku hampir saja lupa bahwa aku harus mengantar Abah Check Up minggu ini,karena Beliau harus cuci darah tiap minggunya. Akhirnya Aku berpamitan pada Idris. “Administrasinya telah Aku selesaikan. Tapi maaf Aku buru-buru jadi Aku akan segera pulang. Semoga kau cepat sembuh.” Aku pun beranjak meninggalkan Rumah Sakit serta bergegas pulang.
Aku mengetuk pintu.Ternyata Umi yang menyambutku.”Dari mana saja Rahma? Apa kau lupa ada jadwal pemeriksaan Abah? Hmm..Kau ini.” Aku tertunduk lemas. Aku menyesali kecerobohanku dan perlahan menceritakan kejadian tadi siang pada Umi dan Aisyah yang tampak kecewa padaku. Beruntung Umi dan Aisyah  memahami keadaanku. Sehingga Aisyahlah yang mengantar Abah. Umi tak sempat mengantar Abah karena harus mengajar ngaji para santri di Pesantren yang didirikan Abah.Hari-harinya kini terasa berat semenjak peran Abah tak seperti dulu yang selalu berperan aktif mengasuh pondok tersebut. Dari pondok yang diasuh oleh Abah telah terlahir ratusan santri yang menjadi hafidz/hafidzoh. Meski Aku bukan putri kandung mereka, tapi setidaknya Aku adalah salah satu dari ratusan santri tersebut.Ya..Aku beruntung karena dipertemukan dengan Umi dan Abah yang sedari kecil merawatku semenjak kepergian kedua orangtuaku pada Sang Khalik. Betapa berartinya kasih sayang sesosok Ibu dan Ayah untuk seorang anak lah yang membuat mereka mengangkatku menjadi anak yang tak pernah mereka bedakan dengan Aisyah, putri kandung mereka. Ketulusan mereka pula yang membuatku pun menganggap Beliau layaknya orangtua kandungku.
Ku baringkan tubuhku di atas ranjang untuk sekedar beristirahat serta menenangkan pikiran. Kejadian tadi siang sungguh tak mudah ku lupakan. Hmm..Betapa tidak? Sesosok pemuda yang ku fikir Ia aneh dan tak jelas asal-usulnya. Bahkan dari penjelasan dokter mengenai penyakitnya, Aku bisa menangkap sedikit keanehan padanya. Sepertinya dia adalah mantan pengguna narkoba. Dia mengidap penyakit hemofilia, Keadaan dimana  apabila seseorang terluka darahnya sulit membeku. Luka bekas kejadian tadi itupun pasti sulit untuk benar-benar kering  sehingga membuat darah terus mengalir di daerah sekitar kepalanya. Aku sungguh tak tega melihatnya karena Ia tak seperti seorang pecandu melainkan pemuda yang begitu sopan. Tapi..Entahlah apa yang membuatnya sampai terjerumus ke barang haram itu.
Mata sayup-sayup mulai terpejam. Tiba-tiba Aku teringat akan sapu tangan pemberian Ustadz Ramdhan waktu itu.”Astaghfirullah..Sapu tanganku sepertinya tertinggal  di Rumah Sakit.Bagaimana ini?” Bagiku itu amat berarti. Sapu tangan itulah yang selalu mengingatkan ku selalu pada sosok Ustadz Ramdhan yang begitu tulus mencintaiku, meski hingga kini Aku tak juga menerima permintaannya untuk melamarku. Kini Ia telah jauh mengejar cita-citanya di Kairo untuk meneruskan pendidikannya di “Fakultas Usuludin Universitas Al-Azhar”. Hatiku tak pernah berkata lebih dari anggapan sebagai seorang kakak padanya. Perhatian yang selama ini Ia berikan tak pernah mampu ruang khusus di hatiku sebagai seseorang  yang lebih dari sekedar kakak atau bahkan Ustadz bagiku. Karena Ia terbilang lebih tua dariku. Umur kami tak berselang jauh, hanya selisih 4 tahun. Sehingga Aku lebih menganggapnya sebagai seorang kakak. Pikiranku berbalik cepat pada sapu tangan itu, Aku berharap suatu saat nanti Aku menemukannya kembali karena Aku tak ingin menyesal sebab tak mampu menjaga pemberian dari orang yang begitu menyayangiku dengan tulus.
Aktivitasku di Kampus mulai berjalan seperti biasa. Dengan berbagai kegiatan ke Organisasian yang ku ikuti,mempertemukanku kembali dengan Idris. Aku tak menyangka bahwa Ia juga mahasiswa dikampusku.Lewat Organisasi “Ikatan Mahasiswa Dakwah Islam NU” membuatku mengenal Idris. Ia adalah mahasiswa Tarbiyah semester 6 dan merupakan seorang aktivis di kampusku. Tak disangka kini Aku mengenal sosok Idris begitu dekat.. Latar belakang serta masa lalu yang begitu suram tak pernah nampak sedikitpun di raut wajah dan kedewasaan yang nampak jelas dalam rona kehalusan budinya.Banyak hal yang terkadang mempertemukanku dengan Idris. Namun,Aku tak pernah bertanya banyak hal padanya selain yang berkaitan dengan kegiatan kampus yang kami ikuti. Aku pun mengenal pribadinya lewat seorang teman dekatnya.
“Assalamu’alaikum..” Salam tersebut berulang  kali ku ucapkan, tapi tak ada jawaban. Hingga akhirnya Aku memberanikan diri untuk masuk rumah karena ternyata pintu tak terkunci. Keadaan nampak aneh ketika kudapati rumah kosong tak berpenghuni. Aku bertanya pada salah seorang santri. Berdasarkan informasi yang ku dapat, Umi baru saja pergi bersama Abah dengan terburu-buru dan diantar oleh beberapa santri. Aku pun mulai cemas! Banyak hal yang Aku takutkan terjadi pada Abah. Aku tahu Abah sosok yang kuat, tapi kali ini firasatku berkata lain. Aku segera menghubungi Umi, tapi tak ada jawaban. Beberapa kali pula ku coba mengirim pesan tapi tak ada balasan, Hingga Aku temukan ponsel Umi tertinggal di Meja Makan. Aku begitu khawatir serta tak sabar ingin tahu apa yang terjadi pada Abah. Otak pun mulai berpikir keras mencari jalan keluar. Beberapa saat Aku terdiam.”Akh.Ya! Mungkin saja Aisyah tahu dimana Umi dan Abah sekarang.”  Aku bergegas mengambil ponselku dan menghubungi Aisyah. Setelah beberapa lama menunggu, terdengar iasak tangis di ujung telephone.”Ada apa Aisyah? Apa sesuatu terjadi pada Abah?” Tanyaku tak sabar menunggu penjelasan Aisyah. Ia tak sanggup berkata banyak hal, dan hanya memberi tahuku bahwa Abah sedang dirawat di Rumah Sakit dan Aku harus segera kesana. Tak berpikir lama,Aku melangkahkan kaki menuju Rumah Sakit.
Tiba di Rumah Sakit, ku dapati Umi, Aisyah,dan beberapa santri tengah menangis di ruang tunggu UGD. Aku menghampiri Umi dan bertanya apa yang terjadi.Tak ada satupun yang memberanikan diri menjelaskan keadaan Abah padaku. Mereka menangis dan Nampak begitu berduka. Hingga akhirnya datanglah seorang dokter padaku. Menurut diagnosa dokter kemungkinan Abah untuk bertahan hanya beberapa persen saja, semua harus kami kembalikan pada NYA dengan terus berdo’a dan memberi dukungan agar Abah mampu melawan penyakitnya. Abah hanya berbaring dengan serangkaian alat yang di pasang di tubuhnya di kondisinya yang koma karena darah dalam tubuhnya yang sudah begitu kotor karena gagal ginjal yang menimpanya sejak 5 tahun silam. Aku duduk disamping Abah. Ku genggam erat tangannya dan ku pandangi sosok orang yang begitu berjasa di hidupku. Tak terasa air mata pun meleleh berlinang membasahi pipi ini. Aku terus berdo’a untuk kesembuhan abah dan agar Abah diberi kekuatan untuk bertahan.
Abah masih terbaring di Rumah Sakit setelah 40 hari lamanya kami menanti kesembuhan Abah. Abah tak kunjung sadar, Beliau masih terbaring lemah dan koma sehingga tak mampu menyaksikan betapa kepedihan Umi yang tak pernah jauh dari RS Persahabatan itu. Tak hanya sekedar menemani Abah, tapi juga senantiasa berkirim do’a dan mengupayakan segala hal untuk kesembuhan Abah. Mengingat Umi tak mampu lagi mengasuh pondok untuk beberapa waktu lamanya, aku pun tak segan-segan menggantikan peran Umi untuk sedikit berbagi  ilmu dengan para santri di pesantren. Meskipun sudah ada beberapa ustadz/ustadzah yang mengajar para santri tapi aku tak mau berpangku tangan saja melihatbetapa repotnya mereka tanpa campur tangan Umi dan Abah.
Tak kusangka libur semester kali ini, Ustadz Ramdhan pulang. Ia kembali memberikan konstribusinya di pesantren ini. Tak hanya mengajar, acap kali Ia berbagi keterampilan tulis menulis yang sudah sejak lama ia tekuni.Sambutan para santri begitu meriah. Mereka menyambut hangat kedatangan Ustadz Ramdhan tak terkecuali kaum hawa/santri putri. Sering kali ku dengar mereka tengah membicarakan Ustadz Ramdhan. Ketika beberapa kali berpapasan, terkadang beliau melontarkan senyum hangatnya padaku. Beliau tak hanya intelek muda yang pantas dibanggakan tapi juga seorang pemuda tampan nan tangguh yang memang pantas di idolakan seorang wanita. Tak heran, Umi dan Abah pun sangat menyukai Ustadz Ramdhan. Beberapa waktu lalu, Umi sempat menyinggung sedikit tentang  pertunangan kami. Umi dan Abah memang telah sepakat menjodohkan kami meski aku tak bisa memungkiri  bahwa aku tak sedikit pun menganggapnya lebih dari seorang kakak.
Aktivitasku di pesantren acap kali berbenturan dengan kegiatan kampus. Dengan harus berputar otak aku pun mencari jalan keluar agar kegiatan kampusku tak terbengkalai mengingat sebentar lagi aku akan menghadapi penyusunan skripsi. Seiring berjalannya waktu, aku dan Idris semakin dekat. Sekarang aku tak segan untuk bertanya mengenai hal pribadinya. Mengingat kami sudah benar-benar menjadi teman, Ia sering membantuku mengerjakan masalah atau mencarikan materi untuk tugas kuliahku. Masa lalunya yang silam, tak membuatku enggan untuk dekat dengannya, karena aku tahu sesungguhnya ia pemuda yang sopan, baik, serta perhatian. Meski aku tak pernah berusaha memanfaaatkannya, tapi ia sering kali menawarkan bantuan padaku. Terkadang ketika aku melihat Umi lelah menemani Abah, aku memaksanya untuk pulang. Aku menggantikan Umi menemani Abah.Idris tak tinggal diam, Ia ikut berjaga di ruang tunggu karena menghawatirkan sesuatu terjadi padaku karena aku sering menginap di Rumah Sakit.
Kebaikan Idris padaku membuat Umi dan Aisyah mengenal dekat sosok Idris. Mereka sering kali mengajak Idris ke rumah. Lama-lama..Ku perhatikan sikap Aisyah yang aneh, hingga suatu hari kutemukan buku diary Aisyah yang berisi curhatan perasaannya pada Idris. Aku begitu kaget ketika membacanya. Entah mengapa aku begitu cembuiru dan terluka mengetahui aisyah menyukai Idris. Meski demikian Aku mencoba untuk tidak menampakn kecemburuanku pada Aisyah. Aku lebih senang melihat Adikku bahagia dengan pilihannya. Meski aku tahu sesungguhnya Idris menyimpan perasaan lebih padaku.Aku mencoba bersikap biasa meski aku pun berharap lebih padanya.
Suatu ketika aku mendapat kabar bahwa Idris mengalami kecelakaan.Ramdhan tak sengaja menabrak Idris. Ia membawanya ke Rumah  Sakit tempat dimana Abah dirawat.Aku tak menyangka mereka adalah sahabat kecil.Aku yang tengah menjenguk Abah pun bergegas menuju Ruang UGD untuk melihat kondisi Idris. Aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi mengingat penyakit yang di deritanya. Tiba disana, Ramdhan menceritakan apa yang telah terjadi. Kini kondisi Idris kritis. Aku hanya mampu melihatnya di balik kaca karena dokter tak mengizinkan kami masuk. Aku tak sanggup menahan air mataku meski Ramdhan berusaha menenangkanku. Meski aku sadar, Ia begitu cemburu menyaksikan butir air mata yang ku teteskan untuk Idris, tapi ia begitu tegar. Dialah sosok pemuda yang begitu dewasa, membuatku sadar betapa ia terlalu baik untuk ku.
Tiba-tiba ponselku berdering.Aisyah memintaku agar segera ke Ruang Melati 05 tempat Abah dirawat. Aku dan Ramdhan bergegas melihat kondisi Abah. Ternyata Abah telah sadar meski tampak sulit untuk sekedar menyampaikan sepatah kata padaku..Beliau berpesan agar aku menjaga Umi dan Aisyah. Beliau juga begitu ingin menyaksikan pernikahanku dengan Ustadz Ramdhan segera. Umi memintaku agar bersedia memenuhi permintaan Abah, karena mungkin akan jadi permintaan beliau yang terakhir kalinya. Demi rasa ta’dzim pada Umi dan Abah, aku bersedia memenuhinya. Dengan mahar seperangkat alat sholat serta 1 buah mushaf Al-Qur’an, ijab qobul pun berlangsung. Selesai lafadz ijab qobul itu dibacakan, Abah menghela nafas panjang untuk yang terakhit kalinya. Hatiku teriris menyaksikannya menyaksikan kepergian orang yang begitu berjasa di hidupku.
Sementara itu, Umi membawaku keluar untuk menenangkan diri menunggu pengurusan jenazah Abah. Aku melihat dokter yang tadi merawat Idris berlalu lalang dengan nada percakapan yang begitu panik pada seorang suster. Pikiranku mulai kacau. Aku bergegas ke Ruang UGD. Ramdhan dan Aisyah mengikutiku. Tak berselang lama dokter keluar dan mengizinkan salah  satu diantara kami masuk. Penanganan  khusus yang dilakukan dokter membuat kami tak bebas menemani Idris. Akhirnya aku memutuskan agar Aisyah yang menemani Idris mempertimbangkan betapa sedihnya Aisyah membuatku mengalah. Aku menunggu Aisyah keluar, Ramdhan terdiam melihatku tak bersuara sedikit pun. Ia ikut menangis melihat aku menangis penuh kesedihan.”Rahma..aku tahu bagaimana sesungguhnya perasaanmu pada Idris. Apa kau ikhlas menjalani semua ini?” Tanyanya berharap aku berkata jujur. Aku hanya mengangguk kecil. Betapa pun pahitnya ini aku akan coba ikhlas kan.Aku selalu berkeyakinan bahwa apa yang terbaik menurut-NYA pastilah terbaik juga untukku.
Beberapa saat kemudian Aisyah keluar.Ia memberi tahuku bahwa Idris terus memanggil namaku. Akhirnya aku pun memasuki ruang tersebut. Idris memandangku. Ia memberiku sebuah sapu tangan. Itu adalah sapu tangan yang sempat jatuh saat pertyama kali aku mengenal Idris. ”Kemarilah.. Bawa Ramdhan dan Aisyah masuk. “Pintanya padaku.Ramdhan dan Aisyah pun ikut masuk.”Rahma..maaf aku baru sempat mengembalikan ini padamu. Jaga baik-baik! Aku tahu Ramdhan begitu mencintaimu. Dan untukmu aisyah, terimakasih untuk ketulusanmu. Maafkan aku yang tak memiliki perasaan yang sama dengan mu.” Idris mendekatkan tanganku dan Ramdhan, Butir air mata membasahi pipinya.”Jagalah Cinta kalian..Aku turut bahagia menyaksikan kebahagiaan sahabatku, Berjanjilah padaku Ramdhan.” Ramdhan memeluknya erat.Namun itulah pelukan terakhir yang mampu kusaksikan diantara 2 orang yang berharga di hidupku. Isak air mata mewarnai kepedihan yang tergambar jelas menyisakan kepedihan bagi kami.
Ketika semua beranjak pergi dari pemakaman, aku tetap berdiam menangis disamping batu nisan Abah dan Idris.Ramdhan mengusap air matakudengan sapu tangan yang ku genggan erat di tanganku. Tak sengaja sehelai kertas jatuh dari dalamnya. Ramdhan mengambilnya dan membacakan isi kertas tersebut padaku.”Rahma..aku mungkin tak sesempurna yang kau mau. Tapi kasih ini tulus, hanya teruntuk dirimu..Bukan karena cintaku yang tak sebening bola matamu, Tapi karena aku hanya mampu berada di balik bayangmu hingga membuatku tak mampu utarakannya padamu. Menyaksikan sesosok insan yang begitu pantas untukmu membuatku pun mersa dalam cinta-NYA. Karena senyum mu adalah darah di kehidupanku. Dibalik bayangmu,Ku bersandar meraih cintaNYA...”Dari dalam hatiku terasa hujan tangis menderu.Betapa cinta adalah rahasia-NYA,Sebesar apapun cinta kita pada makhluk, hanya DIA lah yang mampu berkehendak memilih yang terbaik bagi tiap-tiap makhluk ciptaan-NYA.
~THE END~